Wednesday, April 29, 2015

Belajar Merasakan

Posted by Unknown On 9:55 PM No comments


Belajar Merasakan
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Arifin Ilham

Terkisah dari Ibnu Arabi dalam Futuhat al-Makkiyah. Di satu pagi, seorang santri menemui gurunya dalam keadaan pucat pasi. “Wahai Tuan Guru, semalam aku mengkhatamkan Alquran dalam shalat malamku.

Sang Guru tersenyum. “Bagus Nak. Nanti tolong hadirkan bayangan diriku di hadapanmu saat kau baca Alquran itu. Rasakanlah seolah-olah aku sedang menyimak apa yang engkau baca.”

Esok harinya, sang murid datang dan melapor pada gurunya. “Tuan Guru,”  katanya, “Semalam aku hanya sanggup menyelesaikan separuh dari Alquran itu.”

Engkau sungguh telah berbuat baik,” ujar sang guru sembari menepuk pundaknya. “Nanti malam lakukan lagi dan kali ini hadirkan wajah para shahabat Nabi yang telah mendengar Alquran itu langsung dari Rasulullah. Bayangkanlah baik-baik bahwa mereka sedang mendengarkan dan memeriksa bacaanmu.”

Pagi-pagi buta, sang murid kembali menghadap dan mengadu. “Duh Guru,” keluhnya, “Semalam bahkan hanya sepertiga Alquran yang dapat aku lafalkan.

Alhamdulillah, engkau telah berbuat baik,” kata sang guru mengelus kepala si santri. “Nanti malam bacalah Alquran dengan lebih baik lagi, sebab yang akan hadir di hadapanmu untuk menyimak adalah Rasulullah Saw sendiri. Orang yang kepadanya Alquran diturunkan.''

Seusai shalat Shubuh, sang guru bertanya, “Bagaimana shalatmu semalam?” “Aku hanya mampu membaca satu juz, Guru,” kata si santri sambil mendesah, “Itu pun dengan susah payah.”

Masya Allah,” kata sang guru sambil memeluk sang santri dengan bangga. “Teruskan kebaikan itu, Nak. Dan nanti malam tolong hadirkan Allah di hadapanmu. Sungguh, selama ini pun sebenarnya Allah-lah  yang mendengarkan bacaanmu. Allah yang telah menurunkan Alquran. Dia selalu hadir di dekatmu. Jikapun engkau tidak melihat-Nya, Dia pasti melihatmu. Ingat baik-baik. Hadirkan Allah, karena Dia mendengar dan menjawab apa yang engkau baca.”

Keesokan harinya, ternyata santri itu jatuh sakit. Sang Guru pun datang menjenguknya. “Ada apa denganmu?” tanya Sang Guru.
Sang santri berlinang air mata. “Demi Allah, wahai Tuan Guru,” ujarnya, “Semalam aku tak mampu menyelesaikan bacaanku. Hatta, Cuma al-Fatihah pun tak sanggup aku menamatkannya. Ketika sampai pada ayat, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin” lidahku kelu. Aku merasa aku sedang berdusta. Di mulut aku ucapkan “Kepada-Mu ya Allah, aku menyembah” tapi jauh di dalam hatiku aku tahu, aku sering memperhatikan yang selain Dia. Ayat itu tak mau keluar dari lisanku. Aku menangis dan tetap saja tak mampu menyelesaikannya.”

Nak...,” kata sang guru sambil berlinang air mata, “Mulai hari ini engkaulah guruku. Dan sungguh aku ini muridmu. Ajarkan padaku apa yang telah kau peroleh. Sebab meski aku membimbingmu di jalan itu, aku sendiri belum pernah sampai pada puncak pemahaman yang kau dapat di hari ini.

Ikhwah, para pecinta sejati tentu akan saling membimbing diri untuk bersama mendekat kepada Rabbnya. Mereka tidak akan canggung berbagi peran. Untuk belajar merasakan. Wallahu A’lam.

Nasehat Rasulullah kepada putrinya

Posted by Unknown On 7:42 PM No comments


Nasehat Rasulullah SAW kepada Putrinya
Bismillahirrahmanirrahim
” Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra, sesungguhnya dia berkata:  Pada suatu hari Rasulullah saw datang kepada puterinya, Fathimatuz Zahra’. Beliau dapati Fathimah sedang menumbuk gandum di atas lumping  (batu/kayu penggiling), sambil menangis. Kemudian Rasul berkata kepadanya: “Apakah yang membuatmu menangis wahai Fathimah?  Allah tiada membuat matamu menangis. “Fathimah kemudian  menjawab: ” Wahai ayahanda, aku menangis karena batu penggiling ini dan  kesibukanku dalam rumah”.
Kemudian Nabi duduk di sampingnya. Dan Fathimah berkata lagi:
“Wahai ayahanda, atas keutamaan engkau, mintalah kepada Ali agar dia membelikan bujang untukku supaya dapat membantuku menumbuk gandum dan  menyelesaikan urusan rumah.
Kemudian Nabi berkata kepada puterinya, Fathimah: “Kalau Allah menghendaki wahai Fathimah, tentu lumpang itu akan menggilingkan gandum  untukmu. Akan tetapi Allah menghendaki agar ditulis beberapa kebaikan untukmu, menghapuskan keburukan-keburukan  serta hendak mengangkat  derajatmu
Wahai Fathimah, barangsiapa orang perempuan yang menumbukkan  (gandum) untuk suami dan anak-anaknya, pasti Allah akan menuliskan  untuknya setiap satu biji, satu kebaikan serta menghapuskan darinya  setiap satu biji satu keburukan. Dan bahkan Allah akan   mengangkat  derajatnya.
Wahai Fathimah, barang siapa orang perempuan berkeringat manakala menumbuk (gandum)  untuk suamiya. Tentu Allah akan menjadikan  antara dia dan neraka tujuh khonadiq  (lubang yang panjang).
Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan mau meminyaki kemudian menyisir  anak-anaknya serta memandikan mereka, maka Allah akan  menuliskan pahala untuknya dari   memberi makan seribu orang lapar dan  memberi pakaian seribu orang yang telanjang.
Wahai Fathimah, bilamana seorang perempuan menghalangi (tidak mau membantu) hajat tetangganya, maka Allah akan menghalanginya minum  dari telaga “Kautsar” kelak di hari  Kiamat.
Wahai Fathimah, lebih utama dari itu adalah kerelaan suami terhadap istrinya. Kalau saja suamimu tidak rela terhadap engkau, maka  aku tidak mau berdo’a untukmu. Apakah engkau belum mengerti wahai  Fathimah, sesungguhnya kerelaan suami adalah perlambang kerelaan Allah  sedang kemarahannya pertanda kemurkaan-Nya.
Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan mengandung janin dalam perutnya, maka sesungguhnya malaikat-malaikat telah memohonkan  ampun untuknya, dan Allah menuliskan  untuknya setiap hari seribu  kebaikan serta menghapuskan darinya seribu keburukan.  Manakala dia menyambutnya dengan senyum, maka Allah akan  menuliskan untuknya pahala  para pejuang. Dan ketika dia telah  melahirkan kandungannya, maka berarti dia ke luar dari dosanya bagaikan  di hari dia lahir dari perut ibunya.
Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan berbakti kepada suaminya dengan niat yang  tulus murni, maka dia telah keluar dari dosa-dosanya bagaikan di hari ketika dia lahir dari perut ibunya, tidak  akan keluar dari dunia dengan membawa dosa, serta dia dapati kuburnya sebagai taman diantara taman-taman surga.Bahkan dia hendak diberi pahala seribu orang haji dan seribu orang umrah dan seribu malaikat memohonkan ampun untuknya sampai hari kiamat. Dan barangsiapa orang perempuan  berbakti kepada suaminya sehari semalam dengan hati lega dan penuh ikhlas serta niat lurus, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan kepadanya pakaian hijau (dari surga) kelak di hari Kiamat, serta menuliskan untuknya setiap sehelai rambut pada badannya seribu  kebaikan, dan Allah akan memberinya (pahala) seratus haji dan umrah.
Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan bermuka manis di depan suaminya, tentu Allah akan memandanginya dengan pandangan’rahmat’.
Wahai Fathimah, bilamana seorang perempuan menyelimuti suaminya dengan hati yang lega,  maka ada Pemanggil dari langit memanggilnya”mohonlah agar diterima amalmu. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu maupun yang  belum lewat”.  Wahai Fathimah, setiap perempuan yang mau meminyaki rambut dan jenggot suaminya,  mencukur kumis dan memotongi kukunya, maka Allah akan  meminuminya dari ‘rahiqil  makhtum dan sungai surga, memudahkannya ketika mengalami sakaratil maut, juga dia hendak mendapati kuburnya bagaikan taman dari pertamanan surga, serta Allah menulisnya bebas dari neraka serta lulus melewati shirat”.

Monday, April 13, 2015

Anaku Keras Kepala

Posted by Unknown On 6:24 PM No comments
Anak saya Tio, 7.5 tahun yatim sejak < 2 tahun saat itu pula kembali tinggal sama ortu saya yang kurang harmonis. Bapak saya emosional bahkan anak saya pernah ditempeleng kepala sampai benjol, lebam dan pernah juga dihantamkan kepalanya ke dinding. Kalo sedang baik ya.. sayang sama Tio. Intinya sejak saat itu anak saya sering melihat dan merasakan kekerasan. Bulan Juli 09 kemarin ibu saya meninggal. Bulan Desembernya rumah saya/suami selesai dikontrak orang, Januari saya perbaiki, Febuari saya tempati sendiri dengan anak semata wayang saya. Saya dosen PTS, 35 tahun. Anak saya ajarin sendiri sering tidak nurut, saya les-kan tidak mau, saya datangkan guru les juga tidak mau belajar. Mengerjakan PR/PS (disekolah) semaunya sendiri. Kadang disuruh benerin yang masih salah tetep tidak mau. Dia bilang sudah bener. Sifatnya keras kepala, cengeng, menangis keras-keras. Sering saya pulang kerja dia lagi main sama temen-temen saya panggil untuk mandi sore trus bikin PR, belom-belom udah nangis. Saya tunggu nangisnya sampai lama sambil saya tinggal mengerjakan urusan dapur sampai saya bujuk2 tetap tidak mau akhirnya terpaksa mandi dengan nangis, memberontak, memukul saya. Saya tinggal tanpa pembantu, anak saya antar & jemput sekolah sendiri, kadang adik saya, trus pulang saya suruh makan & tidus siang. Kadang masih/ belum tidur saya kunci dari luar (saya harus ngajar) & saya titipkan tetangga (RT-nya). Kunci rumah saya 1 di rumah pak RT. Intinya anak saya susah diajak belajar/ saya belum berhasil menaklukkan hatinya agar nurut untuk belajar, saya sudah praktekkan banyak cara sampai saya kuliah akta4 biar bisa ngajari anak sendiri. Tolong beri saya nasehat/doa karena saya sudah tidak punya mertua & ibu. Terima kasih banyak, Barokalloh.

Ana Wahyu

Jawab :

Assalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, bu Ana yang dimuliakan Allah, bu, baca buku saja tentang pendidikan tidak perlu Ibu sampai sekolah lagi, anak ibu perlu perhatian, sangat perlu dan nanti jiwanya akan keras bila ibu kunci, ibu kekang, dan ibu marahi, bu, dia perlu kelembutan, anak akan lembut bila kita lembut dan akan nakal bila kita ikat, akan pemarah bila kita marahi terus, bu, kasihani dia, ajak dia, rangkul peluk, cium sebelum tidur,ajak bicara sudah mengerti kok, dia pintar, dia paham ajak ngobrol. Mula-mula ibu curhat bahwa ibu sedih, dirumah hanya ada ibu dan dia, maka yuk nak kita bersahabat, ibu juga harus bekerja kalau ibu tidak kerja maka kita berdua tidak makan, dan jadi gelandangan dan tidur diluar rumah, yuk bantu ibu sayang, ibu cari uang untuk kamu, dan kamu nurut sama ibu, lalu semalaman dan berpelukan sampai tidur, ibu tidur dengan dia saja, agar dia rasakan kehangatan dan kasih sayang dari ibunya. Kalau saya lihat dia jarang bertemu ibu, dan bila bertemu ibu nampaknya hanya beban saja yang dia nampak, jadi dia malas ketemu ibu, misalnya ayo mandi, bikin pe er dan lain-lain, jadi ibu lama-lama akan dianggapnya horor dan galak, bila sudah remaja khawatir akan semakin berontak dan nakal. Untuk anak seusia dia apalagi lelaki, wajar kalau malas bikin peer, anak saya juga malasnya setangah mati, dan jujur katanya sukanya main, saya juga kesal, namun saya sampaikan boleh main satu jam dan 20 menit belajar, janji yaa, bila jarum panjang di angka 6, kamu stop, ketika itu, jarum Panjang diangka 5 ibu sudah tegur, ingat nak, sebentar lagi stop, dan ketika jam ke 6, ibu usahakanlah bergembira dan bercanda dengannya yeaaaahh… selesai..!!! ayo kita belajar, biasanya dia tidak mau, maka ibu…harus bujuk dia dan ingatkan, tadi kan ibu sudah janji kamu boleh main dan kamu juga janji habis ini belajar, maka itu, ayo sekarang belajar dan setelah itu boleh main lagi atau baca buku. Ibu ajarkan yang dia susah dan tidak bisa saja, misalnya matematika, kalau ada 10 soal yang dia tidak bisa dicicil saja bu 2, 2 yang penting untuk anak SD mereka hafal perkalian dan juga bisa menambah dan mengurangi dengan cepat, toh disekolah sudah belajar, yang penting emosinya stabil bu, nanti juga ada UN, anak akan rajin sendiri, ketika itu anak sudah dewasa, yang penting dia tidak bodoh-bodoh amat gak papalah bu, daripada dia nanti benci sama ibu dan menjauhi ibu, maka ketika dewasa pengorbanan ibu akan sia sia, jadi setelah ini jangan tambah kesibukan lagi ya bu dampingi anak sebanyak mungkin, salam sayang, wassalammu’alaikum

Note : bu, kalau ada uang lebih, cari pembantu saja agar ibu pulang kerja tidak terlalu lelah agak rileks dikit dan anak bisa melihat ibunya yang gembira bukan yang marah, oke bu,salam sayang untuk ananda.

Suami Pelit

Posted by Unknown On 3:29 AM No comments
Beberapa waktu yang lalu saya membaca suatu pertanyaan di millis mengenai “suami pelit”, sehingga menyebabkan isteri tersebut ingin bekerja agar keperluan pribadinya terpenuhi.
Mungkin untuk ukuran keluarga yang tingkat ekonominya rendah hal-hal semacam ini bisa dimaklumi. Jangankan untuk memenuhi kebutuhan sekunder, untuk memenuhi kebutuhan primer pun masih belum layak.
Tapi lain hal jika pada keluarga yang mampu menjalankan praktek tersebut.
Saya jadi membayangkan bagaimana seandainya hal tersebut terjadi pada saya. Bagaimana seharusnya saya bersikap andai saya mempunyai suami seperti itu? Terus terang mungkin saya akan bersikap protes dan menyatakan keberatan saya, karena sikap kurang bijaksana suami.
Terbayang oleh saya ketika saya ingin membersihkan rumah, tapi tak disediakan alat untuk membersihkan rumah seperti sapu, kain pel dan alat-alat kebersihan lainnya.
Untuk peralatan memasak pun saya disediakan peralatan yang hampr semuanya bekas, karena suami segan untuk mengeluarkan uang, maka tanpa malu suami pun meminta-minta peralatan rumah tangga yang bekas.
Untuk memenuhi pakaian anak dan peralatan mainannya pun saya harus meminta lungsuran atau belas kasihan orang lain, padahal uang suami saya banyak.
Keperluan pribadi saya untuk membeli alat-alat kosmetika seperti sabun mandi, pasta gigi, sikat gigi, sampoo, bedak dan lain-lain harus yang semurah mungkin tanpa memperhatikan efek dari penggunaaan alat kosmetik tersebut.
Anak-anak pun harus merengek-rengek dan menangis hanya karena tidak dibelikan sepatu.
Sedangkan untuk berzakat yang wajib pun menggunakan dalil yang bisa mengeluarkan zakat yang semurah-murahnya.
Subhanallah betapa tabahnya isteri yang tahan terhadap suami seperti itu.
Memang isteri harus taat dan patuh pada perintah suami, tapi jika suami bertindak salah dan kurang bijaksana, seharusnyalah kita sebagai isteri meluruskannya.
Bukankah kita diperintahkan untuk berada dipertengahan ketika membelajankan harta? Islam mengajarkan kita untuk bersikap pertengahan dalam segala permasalahan.
Allah berfirman:
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67).
Memang sikap berlebihan tidak dianjurkan, karena sikap berlebihan merupakan sikap hidup yang dapat merusak jiwa, harta, dan masyarakat. Sedangkan pelit atau kikir merupakan sikap hidup yang menahan dan membekukan harta.
Sedangkan menurut hadits sebagai berikut:
  • Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan dengan pertengahan, dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga pada hari dia msikin dan membutuhkannya. (HR Ahmad)
  • Tidak akan miskin orang yang bersikap pertengahan dalam pengeluaran. (HR Ahmad)
Dari penjelasan tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa syariat Islam memiliki aturan-aturan yang harus dijalankan oleh setiap muslim dalam mengeluarkan hartanya. Dengan adanya beberapa kasus yang dipaparkan di atas saya jadi lebih berintrospeks diri lagi apakah harta yang telah dikeluarkan sudah sesuai dengan aturan Islam atau belum. Bukakankah kita percaya bahwa rizki itu Allahlah yang mengaturnya, dan tak akan pernah salah pemberian-Nya. Jangan pernah takut untuk mengeluarkan harta dijalan Allah. Jika pengeluaran harta sudah sesuai dengan syariat Islam maka insya Allah, Allah akan memberikan harta pada kita berlipat ganda dan senantiasa diberkahi.
Ada kata mutiara dari Buya Hamka yang mungkin patut kita renungkan:
“Jangan serupakan di antara Hemat dan Bakhil, karena orang yang hemat memperhitungkan perbelanjaannya, uang masuk dan uang keluar dengan tujuan apabila perlu dapat membelanjakan harta itu menurut sepatutnya. Tetapi orang yang bakhil mengumpulkan harta dengan tujuan semata-mata menumpul. Orang yang hemat mengatur hartanya, orang yang bakhil diatur oleh hartanya.”

Tuesday, April 7, 2015

Tatacara Sholat Gerhana Bulan

Posted by Unknown On 12:52 AM No comments
Tidak ada satu kejadian di antara sekian banyak kejadian yang ditampakkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di hadapan hamba-Nya, melainkan agar kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari kekuasaan yang Allah ‘Azza wa Jalla tampakkan tersebut. Yang pada akhirnya, kita dituntut untuk selalu mawas diri dan melakukan muhasabah.
Di antara bukti kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu, ialah terjadinya gerhana. Sebuah kejadian besar yang banyak dianggap remeh manusia. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam justru memperingatkan umatnya untuk kembali ingat dan segera menegakkan shalat, memperbanyak dzikir, istighfar, doa, sedekah, dan amal shalih tatkala terjadi peristiwa gerhana. Dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.” (Muttafaqun ‘alaihi)
PENGERTIAN GERHANA
Dalam istilah fuqaha dinamakan kusûf. Yaitu hilangnya cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya, dan perubahan cahaya yang mengarah ke warna hitam atau gelap. Kalimat khusûf semakna dengan kusûf. Ada pula yang mengatakan kusûf adalah gerhana matahari, sedangkan khusûf adalah gerhana bulan. Pemilahan ini lebih masyhur menurut bahasa. [1] Jadi, shalat gerhana, ialah shalat yang dikerjakan dengan tata cara dan gerakan tertentu, ketika hilang cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya.
HUKUM SHALAT GERHANA
Jumhur ulama’ berpendapat, shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah. Abu ‘Awanah Rahimahullah menegaskan wajibnya shalat gerhana matahari. Demikian pula riwayat dari Abu Hanifah Rahimahullah, beliau memiliki pendapat yang sama. Diriwayatkan dari Imam Malik, bahwa beliau menempatkannya seperti shalat Jum’at. Demikian pula Ibnu Qudamah Rahimahullah berpendapat, bahwa shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah. [2]
Adapun yang lebih kuat, ialah pendapat yang mengatakan wajib, berdasarkan perintah yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Imam asy-Syaukani juga menguatkan pendapat ini. Demikian pula Shiddiq Hasan Khân Rahimahullah dan Syaikh al-Albâni Rahimahullah. [3] Dan Syaikh Muhammad bin Shâlih ‘Utsaimin Rahimahullah berkata: “Sebagian ulama berpendapat, shalat gerhana wajib hukumnya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (jika kalian melihat, maka shalatlah—muttafaqun ‘alaih).
Sesungguhnya, gerhana merupakan peristiwa yang menakutkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkhutbah dengan khutbah yang agung, menjelaskan tentang surga dan neraka. Semua itu menjadi satu alasan kuat wajibnya perkara ini, kalaupun kita katakan hukumnya sunnah tatkala kita melihat banyak orang yang meninggalkannya, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sangat menekankan tentang kejadian ini, kemudian tidak ada dosa sama sekali tatkala orang lain mulai berani meninggalkannya. Maka, pendapat ini perlu ditilik ulang, bagaimana bisa dikatakan sesuatu yang menakutkan kemudian dengan sengaja kita meninggalkannya? Bahkan seolah hanya kejadian biasa saja? Dimanakah rasa takut?
Dengan demikian, pendapat yang mengatakan wajib, memiliki argumen sangat kuat. Sehingga jika ada manusia yang melihat gerhana matahari atau bulan, lalu tidak peduli sama sekali, masing-masing sibuk dengan dagangannya, masing-masing sibuk dengan hal sia-sia, sibuk di ladang; semua itu dikhawatirkan menjadi sebab turunnya adzab Allah, yang kita diperintahkan untuk mewaspdainya. Maka pendapat yang mengatakan wajib memiliki argumen lebih kuat daripada yang mengatakan sunnah. [4]
Dan Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin pun menyatakan, “Jika kita mengatakan hukumnya wajib, maka yang nampak wajibnya adalah wajib kifayah.”
Adapun shalat gerhana bulan, terdapat dua pendapat yang berbeda dari kalangan ulama.
Pendapat pertama. Sunnah muakkadah, dan dilakukan secara berjama’ah seperti halnya shalat gerhana matahari. Demikian ini pendapat Imam asy- Syâfi’i, Ahmad, Dawud Ibnu Hazm. Dan pendapat senada juga datang dari ‘Atha, Hasan, an-Nakha`i, Ishâq dan riwayat dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu. [5] Dalil mereka:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya, keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai terang kembali.” (Muttafqun ‘alaihi).
Pendapat kedua. Tidak dilakukan secara berjama’ah. Demikian ini pendapat Imam Abu Hanifah dan Mâlik. [6] Dalilnya, bahwa pada umumnya, pelaksanaan shalat gerhana bulan pada malam hari lebih berat dari pada pelaksanaannya saat siang hari. Sementara itu belum ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menunaikannya secara berjama’ah, padahal kejadian gerhana bulan lebih sering dari pada kejadian gerhana matahari.
Manakah pendapat yang kuat? Dalam hal ini, ialah pendapat pertama, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kepada umatnya untuk menunaikan keduanya tanpa ada pengecualian antara yang satu dengan lainnya (gerhana matahari dan bulan). [7]
Sebagaimana di dalam hadits disebutkan, “Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Ibnu Qudamah Rahimahullah juga berkata, “Sunnah yang diajarkan, ialah menunaikan shalat gerhana berjama’ah di masjid sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, walaupun boleh juga dilakukan sendiri-sendiri,namun pelaksanaannya dengan berjama’ah lebih afdhal (lebih baik). Karena yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ialah dengan berjama’ah. Sehingga, dengan demikian, sunnah yang telah diajarkan ialah menunaikannya di masjid.” [8]
WAKTU SHALAT GERHANA
Shalat dimulai dari awal gerhana matahari atau bulan sampai gerhana tersebut berakhir. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai kembali terang.” (Muttafaqun ‘alaihi).
KAPAN GERHANA DIANGGAP USAI?
Shalat gerhana matahari tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sediakala, dan (2) gerhana terjadi tatkala matahari terbenam. Demikian pula halnya dengan shalat gerhana bulan, tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sediakala, dan (2) saat terbit matahari. [9]
AMALAN YANG DIKERJAKAN KETIKA TERJADI GERHANA
  1. Memperbanyak dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan amal shalih. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,“Oleh karena itu, bila kaliannya melihat, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.” (Muttafaqun ‘alaihi)
  2. Keluar menuju masjid untuk menunaikan shalat gerhana berjama’ah, sebagaimana disebutkan dalam hadits,“Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
  3. Wanita keluar untuk ikut serta menunaikan shalat gerhana, sebagaimana dalam hadits Asma’ binti Abu Bakr Radhiallahu’anhuma berkata,“Aku mendatangi ‘Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tatkala terjadi gerhana matahari. Aku melihat orang-orang berdiri menunaikan shalat, demikian pula ‘Aisyah aku melihatnya shalat.” (Muttafaqun ‘alaihi)Jika dikhawatirkan akan terjadi fitnah, maka hendaknya para wanita mengerjakan shalat gerhana ini sendiri-sendiri di rumah mereka berdasarkan keumuman perintah mengerjakan shalat gerhana.
  4. Shalat gerhana (matahari dan bulan) tanpa adzan dan iqamah, akan tetapi diseru untuk shalat pada malam dan siang dengan ucapan “ash-shalâtu jâmi’ah” (shalat akan didirikan), sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu’anhuma, ia berkata: Ketika terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diserukan “ash-shalatu jâmi’ah” (sesungguhnya shalat akan didirikan). (HR Bukhâri)
  5. Khutbah setelah shalat, sebagaimana disebutkan dalam hadits, ‘Aisyah Radhiallahu’anha berkata: Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, tatkala selesai shalat, dia berdiri menghadap manusia lalu berkhutbah. (HR Bukhâri)
TATA CARA SHALAT GERHANA
Tidak ada perbedaan di kalangan ulama, bahwa shalat gerhana dua raka’at. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam hal tata cara pelaksanaannya. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang berbeda.
Pendapat pertama. Imam Mâlik, Syâfi’i, dan Ahmad, mereka berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at. Pada setiap raka’at ada dua kali berdiri, dua kali membaca, dua ruku’ dan dua sujud. Pendapat ini berdasarkan beberapa hadits, di antaranya hadits Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu, ia berkata, “Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam , maka beliau shalat dan orang-orang ikut shalat bersamanya. Beliau berdiri sangat lama (seperti) membaca surat al-Baqarah, kemudian ruku’ dan sangat lama ruku’nya, lalu berdiri, lama sekali berdirinya namun berdiri yang kedua lebih pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’, lama sekali ruku’nya namun ruku’ kedua lebih pendek dari ruku’ pertama.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Hadits kedua, dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah melaksanakan shalat ketika terjadi gerhana matahari. Rasulullah berdiri kemudian bertakbir kemudian membaca, panjang sekali bacaannya, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, kemudian mengangkat kepalanya (i’tidal) seraya mengucapkan: “Sami’allahu liman hamidah,” kemudian berdiri sebagaimana berdiri yang pertama, kemudian membaca, panjang sekali bacaannya namun bacaan yang kedua lebih pendek dari bacaan yang pertama, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, namun lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian sujud, panjang sekali sujudnya, kemudian dia berbuat pada raka’at yang kedua sebagimana yang dilakukan pada raka’at pertama, kemudian salam…” (Muttafaqun ‘alaihi).
Pendapat kedua. Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at, dan setiap raka’at satu kali berdiri, satu ruku dan dua sujud seperti halnya shalat sunnah lainnya. Dalil yang disebutkan Abu Hanifah dan yang senada dengannya, ialah hadits Abu Bakrah, ia berkata:
“Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam , maka Rasulullah keluar dari rumahnya seraya menyeret selendangnya sampai akhirnya tiba di masjid. Orang-orang pun ikut melakukan apa yang dilakukannya, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam shalat bersama mereka dua raka’at.” (HR Bukhâri, an-Nasâ‘i)
Dari pendapat di atas, pendapat yang kuat ialah pendapat pertama (jumhur ulama’), berdasarkan beberapa hadits shahih yang menjelaskan hal itu. Karena pendapat Abu Hanifah Rahimahullah dan orang-orang yang sependapat dengannya, riwayat yang mereka sebutkan bersifat mutlak (umum), sedangkan riwayat yang dijadikan dalil oleh jumhur (mayoritas) ulama adalah muqayyad. [10]
Syaikh al-Albâni Rahimahullah berkata, [11] “Ringkas kata, dalam masalah cara shalat gerhana yang benar ialah dua raka’at, yang pada setiap raka’at terdapat dua ruku’, sebagaimana diriwayatkan oleh sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan riwayat yang shahih”. Wallahu a’lam.
Ringkasan tata cara shalat gerhana sebagai berikut.
  1. Bertakbir, membaca doa iftitah, ta’awudz, membaca surat al-Fâtihah, dan membaca surat panjang, seperti al-Baqarah.
  2. Ruku’ dengan ruku’ yang panjang.
  3. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) seraya mengucapkan: sami’allhu liman hamidah.
  4. Tidak sujud (setelah bangkit dari ruku’), akan tetapi membaca surat al-Fatihah dan surat yang lebih ringan dari yang pertama.
  5. Kemudian ruku’ lagi dengan ruku’ yang panjang, hanya saja lebih ringan dari ruku’ yang pertama.
  6. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) seraya mengucapkan: sami’allahu liman hamidah.
  7. Kemudian sujud, lalu duduk antara dua sujud, lalu sujud lagi.
  8. Kemudian berdiri ke raka’at kedua, dan selanjutnya melakukan seperti yang dilakukan pada raka’at pertama.
Demikian secara ringkas penjelasan tentang shalat gerhana, semoga bermanfaat.
Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala ‘alihi washahbihi ajma’in.
Marâji’:
  1. Al-Mughni.
  2. Ar-Raudhah an-Nadiyah.
  3. Asy-Syarhul-Mumti’.
  4. Bidayatul-Mujtahid.
  5. Irwâ‘ul Ghalil.
  6. Raudhatuth-Thalibin.
  7. Shahîh Fiqih Sunnah.
  8. Tamamul-Minnah, dan lain-lain.
Catatan Kaki:
  1. Lisanul-‘Arab, Kasyful Qanna’, 2/60.
  2. Al- Mughni, Ibnu Qudamah, 3/330.
  3. Fathul-Bâri (2/612), Tamamul-Minnah (261), ar-Raudhah an-Nadiyah (156).
  4. Syarhul-Mumti’, 5/237-240.
  5. Al- Umm (1/214), al- Mughni (2/420), al- Inshaf (2/442), Bida yatul- Mujtahid (1/160), danMuhalla (5/95).
  6. Ibnu Abidin (2/183) dan Bidayatul-Mujtahid (1/312).
  7. Shahîh Fiqih Sunnah, 1/433.
  8. Al-Mughni, 3/323.
  9. Al-Mughni (3/427), Raudhatuth-Thalibin (2/87).
  10. Shahîh Fiqih Sunnah, 1/437.
  11. Irwâ‘ul Ghalil, 3/132
Sumber:http://www.scribd.com/doc/9987281/Tatacara-Shalat-Gerhana
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube